Senin, 01 Agustus 2011
Kisah Hidupku *cerpen*
Dimalam yang indah, ribuan bintang menyapaku dengan segala keindahannya, dan di iringi dengan bulan yang ikut serta menyapaku dengan sinarnya yang terang dan kehangatannya. Membuat malam ini semakin indah dan cerah. Tapi keindahan itu tak sepadan dengan isi hatiku saat ini.
Sekarang aku sedang duduk di suatu tempat yang tak cukup besar, dengan perbaduan warna biru laut dan sebuah warna agak keungu-unguan, ditambah hiasan bintang-bintang yang terletak di langit-langit tempatku sekarang, tak lupa pula sebuah tempat tidur yang tak cukup besar, dengan beberapa fotoku di dinding atasnya, membuatku merasa nyaman untuk beristirahat. Inilah kamarku, tak besar, tapi cukup untukku melepaskan semua rasa lelahku.
Kini aku duduk di atas tempat tidurku dengan tatapan kosong yang seolah-olah tak dapat diungkapkan dengan sebuah kata. Hatiku hancur saat mendengar penjelasan dari dokter, kalau ternyata aku mengidap kanker darah stadium akhir.
Aku telah putus asa akan kehendak Yang Maha Kuasa. Meskipun hatiku masih tak rela dengan apa yang terjadi pada diriku saat ini. Tiba-tiba aku mersakan pusing yang sangat sakit di bagian tengah kepalaku, dan tak tersa darah segar telah mngalir dari hidungku. Mamaku yang tiba-tiba sja masuk ke dalam kamarku, mesara khawatir dan panik.
“Astagfirullah. Ify, kam kenapa sayang?!” Tanya mamaku sambil membersihkan darah yang tadi mengalir di hidungku.
“Nggak papa kok, Ma.” Kataku pelan.
“Kerumah sakit ya ,sayang!!” belum sempat aku menjawab, aku sudah pingsan duluan karena tak kuat lagi menahan rasa sakit di kepalaku. Akhirnya orang tuaku membawaku kerumahsakit, disana aku langsung di tangani oleh dokterku.
Tak lama kemudian aku tersadar dari pingsanku, tapi aku masih merasakan sakit di kepalaku. Ku buka mataku dan ku lihat ada seseorang di sampingku, seseorang yang selama ini menjaga dan selalu menemaniku, meskipun ia tau tentang semua penyakitku. Dia adalah kekasihku yang bernama Rio.aku dan Rio sudah menjalin hubungan sekitar 1 tahun lebih, dan Rio lah yang telah memberiku semangat untuk melawan penyakitku ini.
“Sayang, kamu udah sadar?!” tanyanya lembut.
“udah.” Jawabku singkat, karena aku masih belum kuat untuk bicara panjang-panjang.
“hmm,, ya udah. Sekarang kamu makan ya, trus minum obat.” Tuturnya sambil mengusap rambutku bagian atas.
“iya.” Jawabku dengan diiringi sebuah senyuman tipis dari bibirku. Kemudian Rio menyuapiku untuk makan, dan membantuku untuk meminum obat. Stelah itu…
“Ify?”
“iya..”
“kamu sayang nggak sama aku?!” Tanya rio yang berhasil membuatku kaget dengan pertanyaannya itu.
“ya sayanglah, aku sayang banget sama kamu. Memang kenapa?!” tanyaku yang masih penasaran.
“Kalau kamu sayang ma aku, kamu mau kabulkan permintaanku nggak?!” Tanya Rio
“hmm,, iya, apa?!
“aku pengen kamu kemo ya!!. Aku pengen kamu sembuh.” Kata Rio. Memang selama ini aku tak mau di kemo, karena aku tau kemo pasti akan merasakan sakit yang lebih berat, dan belum juga dengan efek samping dari kemo itu sendiri.
“tapi..” kataku menggantungkan perkataanku.
“tapi apa?! Please mau ya, lakuin itu demi aku. Aku pengen lihat kamu sembuh.” Kata Rioyang kini memegang erat tanganku.
“aku takut io, aku takut aku nggak bias sembuh.”
“kamu pasti sembuh!! Percaya ma aku. Aku juga akan selalu doain kamu, aku janji akan selalu menemanimu kalau kamu kemo.” Katanya yang kini mampu meyakinkan hatiku untuk kemo.
“hmm iya.” Jawabku dengan senyuman ramah ku.
Setelah itu, aku mulai 2 kali dalam seminggu melakukan kemo, sampai suatu hari dokter menyuruhku untuk berobat ke Singapore . Awalnya aku ragu, tapi setelah dorongan semangat dari keluargaku dan pacarku, aku tak ragu lagi. Akhirnya aku pun berangkat ke Singapore . Sudah 1 tahun aku tinggal disini(Singapore ), dan hari ini ialah pengambilan hasil lab. Ku, yang menandakan bahwa aku sembuh atau masih sakit. Dan ternyata hasilnya sangat memuaskan, aku sembuh total dari penyakit mematikan itu. Aku tak sabar memberi tahukannya ke Rio .
Esok harinya, aku dan keluargaku memutuskan untuk langsung pulang ke Indonesia . Setelah sampai, kami langsung menuju ke rumah. Sampai sore harinya aku putuskan untuk pergi ke rumah Rio untuk memberi tahu soal ini.
Sampainya aku di depan rumah Rio , aku pencet bel yang ada, dan ada seseorang paru baya yang membukakan pintu.
“Ouh nak Ify.” Kata orang itu yang tak lain adalah mama rio.
“iya tante, apa kabar?!” tanyaku sambil mencium punggung tangannya.
“baik kok, kamu sendiri?!”
“baik juga tante. Hmm.. Rionya ada, Tan?!”
“hmm,, Rio … rio sudah..” wajah mama rio pun berubah sedih.
“Rio sudah apa tan?!” tanyaku penasaran.
“Rio sudah meninggal setahun yang lalu,saat kamu pergi ke Singapore .” Katanya sambil nangis.
“nggak, nggak mungkin. Tante bercanda kan ?! Rio masih hdupkan ,tan?! “ tanyaku tak kalah histeris.
“tante nggak bohong fy.” Tangisanku benar-benar pecah mendengar pernyataan itu. Akhirnya mama Rio mengajakku untuk ke makam Rio . Aku melihat gundukan merah dengan sebuah nisan bertuliskan “Mario Stevano”. Aku tak percaya rio akan cepat meninggalkan aku. Aku menangis sejadi-jadinya. Sampai mama rio memutuskan untuk menungguku di mobil, karna tak kuasa melihatku menangis seprti itu.
Setelah mamario meninggalkanku, tiba-tiba ada sebuah tangan yang memegang bahuku. Aku tersentak kaget. Saatku lihat siapa orang itu, entah apa yang mendorongku,aku langsung memeluk erat orang tersebut.
“Rio…” kataku sambil memeluk orang itu yang tak lain adalah Rio .
“iya sayang, aku Rio ” jawabnya sambil membalas pelukannku.
“kalau ini kamu, trus itu siapa.” Kataku melepas pelukanku dan menunjuk sebuah gundukan merah itu.
“hmm.. itu kosong, aku cuma mau ngerjain kamu aja. Soalnya kemarin mama kamu bilang kalau kamu mau balik dengan kesembuhanmu, aku seneng banget dengernya. Makanya aku buat rencana kayak gini. Hehe. Ma’v ya.. tenyata kamu masih setia ma aku.” Katanya sambil mengusap-usap rambut depanku.
“ih Rio rese’ ah.” Jawabku sambil manyun.
“Biarin :p “ katanya sambil lari meninggalkan aku.
“huh dasar, eh janganlari!! Sini kamu.” Kataku yang kini tengah mengejar Rio .
“Kejar aja kalau bias.” Katanya..
Akhirnya aku maen kejar-kejaran dengannya sampai ke rumah. Dan itulah perjalanan hidupku yang menurutku yang sangat indah.aku bersyukur telah mendapatkan orang-orang yang baik di sekelilingku. Terima kasih Tuhan..
**TAMAT**
Tak Seperti Yang Ku Harapkan *cerpen*
Malam ini, ratusan bahkan ribuan rintikan hujan dating untuk menyirami bumiku ini. Terlihat jelas oleh kedua mataku, jalanan, pepohonan yang sudah mulai basah karena rinitikan itu yang mulai deras. Seperti suasana hatiku saat ini.
Denting jam dalam kamarku yang selalu berputar seakan menandakan bahawa waktu itu tak akan pernah berhenti. Memang waktu tak akan berhenti meski telah kita coba untuk menghentikannya berulang kali. Waktu akan terus berjalan dan perputar seperti bumi ini yang selalu berputar, hingga sampai waktu yang ditentukan oleh Sang Pencipta.
Waktu juga tak dapat di putar kembali ke masa lalu yang pernah kita lewati, yang bisa hanya mengenang kenangan-kenangan pahit dan kenangan bahagia yang kita alami dahulu. Semua itu hanya terdapat dalam memory-memory yang tersimpan di hati dan pikiran kita.
Sungguh sakit sekali saat ku mengingat tentang apa yang terjadi di masa lalu ku. Bukan karena kenangan-kenangan bahagiaku, tapi ini kenangan pahit yang mungkin tak pernah terlupakan dalam angan dan pikiranku.
*****
“aku sayang kamu, fy” kata seorang yang sekarang berada di hadapanku. Dia itu kekasihku.
“aku juga sayang kamu, yo. Sayang banget.” Kataku sambil tersenyum lebar kepadanya. Ia pun langsung memelukku erat. Aku pun membalas pelukannya itu.
**Alyssa Saufika Umari, itu lah namaku. Tapi kalian cukup memanggilku dengan sebutan “ify”. Aku mempunyai kekasih, dia bernama Mari Stevano Aditya Haling, atau akrab di sapa “Rio ”. Aku dan rio sudah 3 tahun ini menjalin hubungan. Mulai kita menginjak bangku kelas X sampai sekarang kelas XII. Selama 3 tahun ini, rio begitu setia kepadaku. Begitupun aku sebaliknya. Aku juga begitu setia kepadanya. Aku merasa bahwa dialah cinta sejatiku yang sesungguhnya.**
“jangan tinggalin aku ya, yo.” Ucapku tiba-tiba. Entah dorongan apa yang membuatku mengatakan itu. Namun rio tak menjawab, dia masih memelukku erat. Aku begitu merasakan kehangatan dalam pelukannya itu.
“hmm, fy” katanya sambil melepas pelukannya dan tangannya di letakkan di bahuku.
“iya.” Kataku sambil menatap wajah kekasihku itu.
“makasih ya.”
“buat?” tanyaku bingung.
“buat semua yang udah kamu kasih ke aku selama 3 tahun ini. Makasih buat sayang kamu ke aku, makasih kamu udah setia sama aku, makasih juga buat….” Namun kata-kata rio terhenti saat jari telunjukku menempel di bibirnya, yang menyuruhnya untuk berhenti berbicara.
“stt,, kamu nggak perlu bilang makasih, yo. Semua itu aku lakuin karena aku sayang sama kamu, aku cinta sama kamu, dan aku gak mau kehilangan kamu. Makanya aku akan selalu jaga sayang akau buat kamu untuk selamanya.” Ucapku.
“selamanya?” tanyanya. Aku hanya menganggukkan kepala.. rio pun memelukku lagi. Entah ada perasaan apa yang bilang kalo ini terakhir kalinya rio memelukku. Tapi aku menepis semua itu, aku yakin bahwa rio akan selalu di samping aku dan gak akan tinggalin aku.
Malam pun semakin larut. Oya, aku dan rio sekarang sedang berada di sebuah taman. Tadi pagi rio mengajakku untuk menikmati malam minggu berdua di taman ini.
“yo, pulang yuk! Udah malem nie, kayaknya bentar lagi hujan deh.” Kataku seraya melepas pelukanku. Tapi aku begitu kaget, ketika melihat rio. Wajah rio kelihatan sangat pucat.
“yo, kamu kenapa? Kamu sakit? Muka kamu pucat banget.” Kataku khawatir sambil memegang wajah kekasihku ini.
“aku gak papa kok. Ya udah yuk pulang!” katanya sambil melepas tanganku dari wajahnya.
“bener gak papa?”
“iya sayang. Udah, ayo pulang.”
“tapi muka kamu pucat banget yo. Kamu yakin bisa bawa motor?”
“iya sayang” kata rio meyakinkanku. Kemudian rio menarikku kearah tempat motornya di parkir.
“kamu beneran nggak papa kan yo?” tanyaku sekali lagi. Aku sangat khawatir dengan rio, karena tak biasanya dia seperti ini.
“sayang, dengerin aku ya. Aku nggak papa kok. Mungkin Cuma kecapekan aja. Kamu jangan khawatir lagi ya.” Katanya sambil memegang pipiku.
“aku cuma takut kamu kenapa-kenapa, yo”
“aku nggak akan kenapa-kenapa kok.”
“janji?” rio hanya membalas dengan anggukan kecil diiringi dengan senyum manisnya. Kita pulan
“ya udah. Sekarang kita pulang ya.” Aku hanya mengangguk. Kemudian rio menyalakan motornya dan langsung melajukannya menuju rumahku.
Sesampainya di rumah, hujan mulai turun satu persatu. Tak terlihat lagi kumpulan bintang yang senantiasa memberi keindahan pada malam ini.
“masuk dulu, yo. Pulangnya nanti aja kalo hujannya udah reda.”
“nggak fy. Ntar mama nyariin aku. Aku pulang sekarang aja ya.”
“tapi yo. Ini kan masih hujan. Tuh lihat hujannya aja deras gitu. Lagian muka kamu masih pucat gitu. Hmm,, Emang kamu bawa jas hujan?” rio hanya menggeleng.
“tuhkan, gak bawa. Ya udah nanti aja pulangnya. Nanti biar aku yang bilang ke mama kamu.”
“nggak papa kok. Aku pulang ya.”
“tapi yo.”
“sttt,, aku nggak akan kenap-kenapa. Jadi gag usah khawatir. Oke.” Katanya. Kemudian ia mengecup keningku.
“love you.” Bisiknya.
“love you too” balasku.
“hati-hati ya.” Pesanku. Ia hanya tersenyum, kemudian langsung menancap gasnya dan pergi meninggalkan rumahku.
“assalammu’alaikum” salamku saat memasuki rumah.
“wa’alaikumsalam” jawab kakakku, kak agni.
“udah pulang de’? rio mana?” kata orang yang berada di samping kakakku. Dia itu kak cakka, pacar kak agni.
“rio udah pulang kak. Padahal lagi hujan gini, tapi dia nekat aja.” Jawabku sedih.
“udah jangan sedih dong. Mungkin rio ada urusan sama keluarganya.” Hibur kak agni.
“iya kak.”
“ya udah, sekarang kamu ganti baju dulu sana . Udah lumayan basah tuh baju kamu, ntar masuk angina lagi.”
“iya.”
Keesokan harinya. Aku yang masih terlelap dalam mimpi indahku, terbangun karena handphone ku berdering. Segera ku bangun dan ku ambil hpku. Terlihat di layar ponselku. 10 panggilan tak terjawab dari orang yang sama. RIO . Yah, yang menelponku itu rio. Tapi kenapa rio telpon aku sepagi ini? Ini kan masih jam 4 subuh. Aku pun mulai berfikir yang nggak-nggak. Aku takut terjadi apa-apa sama rio. Dan ku putuskan untuk menghubungi kekasihku itu.
“hallo..” kata orang di seberang telpon.
“hallo, rio.”
“ini tante, fy bukan rio.”
“ha? Memang rio kemana, tan? Bukannya tadi rio yang telpon ify?”
“tadi itu tante yang telpon. Maaf ya pagi-pagi gini udah ganggu kamu. Tapi ini gawat fy.”
“emang kenapa, tante?” tanyaku yang mulai khawatir.
“rio sakit fy. Sekarang dia di rawat di rumah sakit Bhakti Rahayu.”
“ha? Rio sakit? Sakit apa tante?”
“kamu bisa kesini gak, fy. Nanti tante certain semua.”
“iya tante. Ya udah, ify kesana sekarang.” Kataku. Lalu aku bergegas untuk mandi dan berangkat ke rumah sakit. Saat melewati ruang tengah, terlihat kakakku yang asyik nonton TV.
“hey. Tumben udah bangun? Mau kemana?”
“mau ke rumah sakit. Rio masuk rumah sakit kak.” Kataku sedih.
“ha? Rio masuk rumah sakit? Emang dia kenapa?”
“nggak tau kak.”
“ya udah, kakak anterin aja. Kamu tunggu bentar ya, kakak mau ganti baju dulu.” Aku hanya mengangguk.
@Rumah Sakit Bhakti Rahayu
“kamar rio di mana, fy?” Tanya kakakku. Aku hanya menggelengkan kepala. Lalu terdengar kembali dering handphoneku. Segera ku angkat telpon itu.
“hallo.”
“hallo, fy. Kamu dimana? Sudah ke rumah sakit belum?”
“sudah tante, kamar rio di sebelah mana, tan?”
“Rio sekarang ada di UGD, fy. Kamu cepetan kesini ya.”
“ha? UGD, tan? Ya udah. Ify langsung kesana.” Lalu aku pun pergi ke UGD. Dan meninggalkan kakakku.
“eh, fy tunggu!” katanya, tapi aku tetap terus berjalan. Hingga kini aku sampai di depan ruangan UGD. Aku melihat 2 sosok cewek dan cowok tengah berdiri dengan rasa khawatirnya. Segera ku hampiri mereka.
“tante, om. Gimana keadaan rio?” tanyaku kepada 2 orang itu. Mereka adalah orang tua kekasihku. Tanpa menjawab pertanyaanku, maam rio langsung memelukku.
“tante kenapa? Rio nggak kenapa” kan ?” tanyaku yang semakin khawatir.
“rio… rio kritis, fy.” Katanya mulai menangis
“astagfirullah. Kok bisa, tan? Emang rio sakit apa?”
“dia sakit kanker otak, fy. Udah setahun ini dia mengidap penyakit itu.”
Setelah mendengar penjelasan mam rio barusan. Tangisanku langsung pecah. Kenapa selama ini rio tak pernah memberitahukkannya padaku? Aku inikan pacarnya. Kenapa ia sembunyikan itu semua? Pertanyaan” itu yang terus keluar dipikiranku.
Kemudian suasana pun hening, hanya ada suara isak tangis yang terdengar. Tiba” dokter pun keluar dari ruang UGD. segera ku hampiri dokter itu.
“dok, gimana keadaan pacar saya? Dia nggak kenap” kan ?”
“syukur, dia udah sadar. Tapi keadaannya masih belum terlalu lemah.” Kata dokter
“oya, disini ada yang namanya ify?” tanyanya.
“saya ify, dok. Kenapa?”
“saudara rio ingin bertemu anda.” Tanpa basa basi, aku pun langsung memasukki ruangan itu.
Betapa kagetnya saatku melihat orang yang begitu aku sayang, sekarang terbaring lemah dengan beberapa alat medis yang terpasang di tubuhnya.
“hy sayang.” Kata rio pelan.
“rio..” panggilku dengan keadaan menangis. berlahan aku mulai mendekatinya.
“kok nangis sayang?” aku tak menjawab, aku hanya bisa menangis mendengar kata-katanya. Kemudian suasana pun hening.
>>Di luar ruangan<<
“ya udah, cepetan ya beb. Aku tunggu.” Kata kak Agni yang sedang menelpon kak cakka.
Tak lama kemudian, laki-laki yang di tunggu agni pun dating. Dan ia langsung menghampiri agni yang sedang duduk di depan ruangan UGD.
“agni..” mendengar namanya di sebut agni pun langsung berdiri dan memeluk cakka.
“gimana keadaan rio?” tanyanya khawatir. Ya, memang cakka sudah menanggapku dan rio seperti adiknya sendiri.
“gak tau, ify masih di dalam”
“ya udah, kita berdoa aja ya.” Kata cakka yang berusaha menenangkan kekasihnya itu.
@Ruang UGD
“fy,,” panggil rio pelan. Lebih pelan dari yang pertama tadi.
“ya rio.’
“makasih ya buat semuanya. Maaf kalo aku selalu nyusahin kamu, maaf juga kalo aku belum bisa buat kamu bahagia.”
“rio kok ngomong gitu? Rio udah bahagiain ify kok.” Kata ku yang masih setia dengan tangisanku.
“udah jangan nangis. Nanti cantiknya hilang lho.” Bujuknya.
“oya sayang, boleh minta tolong panggil mamapapa nggak? Aku mau bicara sama mereka.” Kemudian aku pun langsung memanggilkan mama dan papa rio. Sedangkan kak cakka dan kak agni hanya menunggu di luar.
“ma, pa. rio minta maaf ya kalo rio punya salah sama mama dan papa. Maafin rio ya. Dan makasih juga buat semua yang udah mama papa kasih buat rio. Rio sayang kalian.”
“dan juga ify. Jaga diri kamu baik-baik ya. Dan mulai belajar mencintai orang lain. Rio sayang ify selamaya.” Kata rio diakhiri dengan senyuman.
>>siangnya, dipemakaman<<
Yah, setelah kata-kata terakhirnya kemarin, rio menghembuskan nafas terakhirnya. Rio telah pergi selamanya dan tidak pernah kembali. Kini aku hanya bisa menangis di depan gundukan merah dan dengan batu nisan bertuliskan ‘mario stevano’. Aku tak percaya, tuhan akan memanggil rio secepat ini.
“fy, ayo pulang. Ikhlasin rio ya. Rio udah bahagia disana.” Kata kak cakka. Aku hanya mengangguk dan lansung berdiri mengikuti mereka.
Diperjalanan, kak agni sibuk dengan nasihat-nasihat dan kata”nya yang digunakan untuk membujukku agar tidak menangis lagi.
“udahlah dek, jangan nangis terus dong. Kakak kan juga ikut sedih lihatnya.”
“rio jahat kak. Dia nggak tepatin janjinya. Dia udah ninggalin ify.”
“semua itu takdir, fy. Memang itu sudah takdirnya rio,kita tidaj bisa berbuat apa-apa kalo udah kayak gini.” Kata kak cakka yang kini ikut bicara.
Tiba-tiba handphone kak cakka berdering, dengan segera ia mangangkatnya.
“hallo ma.”
“ha? Apa ma? Sekarang acha dimana ma?” <acha itu adiknya cakka.
“oh ya udh. Cakka langsung kesana.” Kata kak cakka saat menerima telponnya.
“dari siapa, beb?”
“dari mama, acha kecelakaan”
“astagfirullah.” Kata kak agni. Aku yang mendengar itu, menjadi tambih sedih. Jelas saja, acha itu sahabatku.
“kecelakaan dimana kak? Trus acha nggak papa kan ?”
“gak tau dek. Kita langsung ke rumah sakit aja.”
Karena jalan yang kita lewati sedang sepi, kak cakka pun menambah kecepatan mobilnya dan saat di tikungan ada sebuah mobil dari jalur yang berlawanan juga sedang melajukan mobilnya dengan cepat. Dan…
BRUAKKK!!!
Tabrakan pun tak dapat di hindari lagi. Mobil yang ku tumpangi bersama kak agni dan kak cakka pun terguling. Sedangkan mobil yang satunya sudah hancur.
>>esoknya, pemakaman<<
Setelah kecelakaan kemarin, kak agni dan kak cakka pun pergi meninggalkanku untuk selamanya. Mereka mengalami luka yang sangat parah sehingga tak dapat tertolong lagi. Sedangkan aku hanya mengalami luka di kepala, kaki dan tangan ku, tapi tak cukup parah.
Hari ini air mataku mengalir lagi melihat 3 gundukan merah yang baru saja di buat. Kenapa 3? Yah, karena setelah kecelakaan kemarin. Ternyata acha, sahabat karibku itu juga ikut pergi bersama kakaknya.
Kini tinggal aku sendiri berada di makam, para pelayat yang tadinya dating sudah pulang kerumanya masing”, termasuk orangtuaku dan orang tua kak cakka.
*****
“RIOOOO…” teriakku dlam kamar. Tapi tak ada yang mendengar, mama papa ku masih berada di luar kota untuk mengurusi bisnisnya.
“rio, kamu jahat yo. Jahat!! Kamu udah ninggalin aku sendirian” kata ku yang kini tengah mengamati foto rio.
“kak agni, kak cakka. Kalian juga jahat!! Kalian tega ninggalin aku, saat aku butuh kalian.” Kataku yang beralih melihat foto kak agni dan kak cakka.
Kemudian pandanganku beralih pada satu bingkai foto dengan foto 2 orang cewek manis di dalamnya. Foto itu adalah fotoku bersama acha. Aku pun mengambilnya.
“acha, kenapa kamu juga ikut pergi bersama mereka?” kata ku sambil melirik kembali foto rio, dan kakak”ku.
“kamu sama jahatnya, cha kayak mereka.”
“kalian semua jahat!! Jahat!!” teriakku dengan tangisku yang sudah pecah.
“semua tak seperti yang ku harapkan.” Kataku pelan, mungkin yang terdengar hanya isak tangisku saja. Dan karena kelelahan, aku pun tertidur.
Di luar kamar ify, terlihat 4 orang dengan pakaian serba putih-putih. Mereka adalah Rio , kak agni, kak cakka, dan acha. Mereka tengah melihat ify yang tertidur pulas dengan mata sedikit bengkak, karena menangis.
“kita akan selalu jaga kamu, fy. Meskipun dunia kita berbeda.” Kata kak agni.
“kita juga akan selalu sayang kamu, fy. Selamanya.” tambah rio.
Kemudian ke empat bayangan itu pun menghilang dan meninggalkan malam yang indah dengan ribuan taburan bintang di langit sana .
**TAMAT**
Langganan:
Postingan (Atom)
