Senin, 01 Agustus 2011

Kisah Hidupku *cerpen*

 

Dimalam yang indah, ribuan bintang menyapaku dengan segala keindahannya, dan di iringi dengan bulan yang ikut serta menyapaku dengan sinarnya yang terang dan kehangatannya. Membuat malam ini semakin indah dan cerah. Tapi keindahan itu tak sepadan dengan isi hatiku saat ini.
            Sekarang aku sedang duduk di suatu tempat yang tak cukup besar, dengan perbaduan warna biru laut dan sebuah warna agak keungu-unguan, ditambah hiasan bintang-bintang yang terletak di langit-langit tempatku sekarang, tak lupa pula sebuah tempat tidur yang tak cukup besar, dengan beberapa fotoku di dinding atasnya, membuatku merasa nyaman untuk beristirahat. Inilah kamarku, tak besar, tapi cukup untukku melepaskan semua rasa lelahku.
            Kini aku duduk di atas tempat tidurku dengan tatapan kosong yang seolah-olah tak dapat diungkapkan dengan sebuah kata. Hatiku hancur saat mendengar penjelasan dari dokter, kalau ternyata aku mengidap kanker darah stadium akhir.
            Aku telah putus asa akan kehendak Yang Maha Kuasa. Meskipun hatiku masih tak rela dengan apa yang terjadi pada diriku saat ini. Tiba-tiba aku mersakan pusing yang sangat sakit di bagian tengah kepalaku, dan tak tersa darah segar telah mngalir dari hidungku. Mamaku yang tiba-tiba sja masuk ke dalam kamarku, mesara khawatir dan panik.

             “Astagfirullah. Ify, kam kenapa sayang?!” Tanya mamaku sambil membersihkan darah yang tadi mengalir di hidungku.
            “Nggak papa kok, Ma.” Kataku pelan.
            “Kerumah sakit ya ,sayang!!” belum sempat aku menjawab, aku sudah pingsan duluan karena tak kuat lagi menahan rasa sakit di kepalaku. Akhirnya orang tuaku membawaku kerumahsakit, disana aku langsung di tangani oleh dokterku.

            Tak lama kemudian aku tersadar dari pingsanku, tapi aku masih merasakan sakit di kepalaku. Ku buka mataku dan ku lihat ada seseorang di sampingku, seseorang yang selama ini menjaga dan selalu menemaniku, meskipun ia tau tentang semua penyakitku. Dia adalah kekasihku yang bernama Rio.aku dan Rio sudah menjalin hubungan sekitar 1 tahun lebih, dan Rio lah yang telah memberiku semangat untuk melawan penyakitku ini.
            “Sayang, kamu udah sadar?!” tanyanya lembut.
            “udah.” Jawabku singkat, karena aku masih belum kuat untuk bicara panjang-panjang.
            “hmm,, ya udah. Sekarang kamu makan ya, trus minum obat.” Tuturnya sambil mengusap rambutku bagian atas.
            “iya.” Jawabku dengan diiringi sebuah senyuman tipis dari bibirku. Kemudian Rio menyuapiku untuk makan, dan membantuku untuk meminum obat. Stelah itu…
            “Ify?”
            “iya..”
            “kamu sayang nggak sama aku?!” Tanya rio yang berhasil membuatku kaget dengan pertanyaannya itu.
            “ya sayanglah, aku sayang banget sama kamu. Memang kenapa?!” tanyaku yang masih penasaran.
            “Kalau kamu sayang ma aku, kamu mau kabulkan permintaanku nggak?!” Tanya Rio
            “hmm,, iya, apa?!
            “aku pengen kamu kemo ya!!. Aku pengen kamu sembuh.” Kata Rio. Memang selama ini aku tak mau di kemo, karena aku tau kemo pasti akan merasakan sakit yang lebih berat, dan belum juga dengan efek samping dari kemo itu sendiri.
            “tapi..” kataku menggantungkan perkataanku.
            “tapi apa?! Please mau ya, lakuin itu demi aku. Aku pengen lihat kamu sembuh.” Kata Rioyang kini memegang erat tanganku.
            “aku takut io, aku takut aku nggak bias sembuh.”
            “kamu pasti sembuh!! Percaya ma aku. Aku juga akan selalu doain kamu, aku janji akan selalu menemanimu kalau kamu kemo.” Katanya yang kini mampu meyakinkan hatiku untuk kemo.
            “hmm iya.” Jawabku dengan senyuman ramah ku.

            Setelah itu, aku mulai 2 kali dalam seminggu melakukan kemo, sampai suatu hari dokter menyuruhku untuk berobat ke Singapore. Awalnya aku ragu, tapi setelah dorongan semangat dari keluargaku dan pacarku, aku tak ragu lagi. Akhirnya aku pun berangkat ke Singapore. Sudah 1 tahun aku tinggal  disini(Singapore), dan hari ini ialah pengambilan hasil lab. Ku, yang menandakan bahwa aku sembuh atau masih sakit. Dan ternyata hasilnya sangat memuaskan, aku sembuh total dari penyakit mematikan itu. Aku tak sabar memberi tahukannya ke Rio.
            Esok harinya, aku dan keluargaku memutuskan untuk langsung pulang ke Indonesia. Setelah sampai, kami langsung menuju ke rumah. Sampai sore harinya aku putuskan untuk pergi ke rumah Rio untuk memberi tahu soal ini.
            Sampainya aku di depan rumah Rio, aku pencet bel yang ada, dan ada seseorang paru baya yang membukakan pintu.
            “Ouh nak Ify.” Kata orang itu yang tak lain adalah mama rio.
            “iya tante, apa kabar?!” tanyaku sambil mencium punggung tangannya.
            “baik kok, kamu sendiri?!”
            “baik juga tante. Hmm.. Rionya ada, Tan?!”
            “hmm,, Rio… rio sudah..” wajah mama rio pun berubah sedih.
            “Rio sudah apa tan?!” tanyaku penasaran.
            “Rio sudah meninggal setahun yang lalu,saat kamu pergi ke Singapore.” Katanya sambil nangis.
            “nggak, nggak mungkin. Tante bercanda kan?! Rio masih hdupkan ,tan?! “ tanyaku tak kalah histeris.
            “tante nggak bohong fy.” Tangisanku benar-benar pecah mendengar pernyataan itu. Akhirnya mama Rio mengajakku untuk ke makam Rio. Aku melihat gundukan merah dengan sebuah nisan bertuliskan “Mario Stevano”. Aku tak percaya rio akan cepat meninggalkan aku. Aku menangis sejadi-jadinya. Sampai mama rio memutuskan untuk menungguku di mobil, karna tak kuasa melihatku menangis seprti itu.
Setelah mamario meninggalkanku, tiba-tiba ada sebuah tangan yang memegang bahuku. Aku tersentak kaget. Saatku lihat siapa orang itu, entah apa yang mendorongku,aku langsung memeluk erat orang tersebut.
            “Rio…” kataku sambil memeluk orang itu yang tak lain adalah Rio.
            “iya sayang, aku Rio” jawabnya sambil membalas pelukannku.
            “kalau ini kamu, trus itu siapa.” Kataku melepas pelukanku dan menunjuk sebuah gundukan merah itu.
            “hmm.. itu kosong, aku cuma mau ngerjain kamu aja. Soalnya kemarin mama kamu bilang kalau kamu mau balik dengan  kesembuhanmu, aku seneng banget dengernya. Makanya aku buat rencana kayak gini. Hehe. Ma’v ya.. tenyata kamu masih setia ma aku.” Katanya sambil mengusap-usap rambut depanku.
            “ih Rio rese’ ah.” Jawabku sambil manyun.
            “Biarin :p “ katanya sambil lari meninggalkan aku.
            “huh dasar, eh janganlari!! Sini kamu.” Kataku yang kini tengah mengejar Rio.
            “Kejar aja kalau bias.” Katanya..

            Akhirnya aku maen kejar-kejaran dengannya sampai ke rumah. Dan itulah perjalanan hidupku yang menurutku yang sangat indah.aku bersyukur telah mendapatkan orang-orang yang baik di sekelilingku. Terima kasih Tuhan..


**TAMAT**

Tidak ada komentar:

Posting Komentar